Perselingkuhan Soekarno-Inggit di Rumah Kos Bandung
- Hubungan percintaan Soekarno dengan Inggit
Garnasih semakin membara seiring kondisi rumah tangga masing-masing yang
semakin hambar. Perubahan sikap yang dialami Haji Sanusi terhadap
Inggit membuat wanita cantik itu semakin kesepian dan tak punya teman
mengadu.
Sementara, hubungan rumah tangga
Soekarno dengan Siti Oetari juga tak
berbeda jauh. Soekarno semakin merasa bosan dengan sikap kanak-kanak
Oetari.
Kondisi tersebut mengakibatkan Soekarno dan Inggit tak bisa menahan rasa
suka satu sama lain. Dalam buku biografi 'Bung Karno: Penyambung Lidah
Rakyat Indonesia', Karya; Cindy Adams, diceritakan keduanya kerap
berbagi kegembiraan bersama.
"Pada awalnya kami menunggu. Selama beberapa bulan kami menunggu dan
tiba-tiba dia berada dalam rengkuhanku. Ya itulah yang terjadi. Aku
menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami
terperangkap dalam rasa cinta satu sama lain. Dan semua itu terjadi
selagi ia masih istri dari Sanusi dan aku suami dari Oetari," kata
Soekarno.
Soekarno tak merasa berdosa atas apa yang dilakukannya itu. Sebab, dia
memiliki pandangan rumah tangga Inggit dengan Sanusi telah lama hancur
dan bukan karena ulahnya.
Perasaan cinta di antara keduanya semakin besar. Sementara, kondisi
rumah tangga masing-masing semakin tak tentu arah. Soekarno akhirnya
menceraikan Oetari dan mengembalikannya ke H.O.S Tjokroaminoto di
Surabaya, pada 1923.
Sekembalinya ke Bandung, Soekarno dan Inggit pun segera bertemu kembali.
Soekarno bercerita soal kondisi dan harapannya mengenai sosok
pendampingnya kelak. Dia berharap wanita yang akan mendampinginya kelak
bisa menjadi seorang ibu, sahabat, kekasih, dan pemberi semangatnya.
Tiap malam keduanya menghabiskan waktu bersama di rumah yang terletak di
Jalan Javaveem, Bandung itu. Sikap Sanusi yang semakin cuek kepada
Inggit dan doyan keluar malam untuk bermain bilyard semakin membuat
Inggit kesepian dan hampa. Inggit tak menolak ketika Soekarno merayunya.
"... Dia menggeser tangannya merayap perlahan-lahan dan menyentuh
tanganku. Kurasakan tenaganya. Dadanya mendekat. Aku ditarik dan kami
berpindah tempat. Hendaknya semua maklum apa yang terjadi sebagai
kelanjutannya. Aku malu menceritakannya, aku adalah
perempuan Timur.
Lagi pula keadaan waktu itu, keadaan rumah tangga kami, maksudku bisa
kalian maklumi. Suamiku sudah lama bukan laki-laki yang bisa memuaskan
diriku."
"... Ah untuk apa aku mengutik-utik masa lampau. Malu! Cerita kita waktu
muda sudah sama-sama kita maklum. Sudahlah bukan sesuatu yang pantas
untuk ditiru," kata Inggit dalam buku 'Biografi Inggit Garnasih:
Perempuan Dalam Hidup Sukarno' karya Reni Nuryanti, terbitan Ombak.
Tali asmara antara Inggit dan Soekarno akhirnya tercium Sanusi. Cercaan
dan hujatan pun diterima Inggit. Tak tahan dengan kondisi tersebut,
Inggit akhirnya mengajak Sanusi berdiskusi menyelesaikan persoalan
mereka. Inggit mencurahkan semua kelakuan Sanusi yang tak disukainya dan
menyatakan hubungan mereka tak bisa diteruskan jika seperti itu terus.
Sinyal perpisahan itu akhirnya menjadi kenyataan saat Sanusi menjatuhkan
talak kepada Inggit. Sanusi mengaku ikhlas melepas Inggit untuk menikah
dengan Soekarno.
"Akang ridho kalau Eulis (panggilan Inggit oleh Sanusi) menerima lamaran
Koesno (nama kecil Soekarno) itu dan kalian berdua menikah. Mari kita
jagokan dia hingga benar-benar dia nanti menjadi pemimpin rakyat.
Dampingi dia, bantulah dia, sampai dia benar-benar mencapai
cita-citanya," kata Sanusi.
Sanusi dengan lapang dada merelakan Inggit untuk menikah dengan
Soekarno. Bagi Sanusi, yang paling penting dia melihat Inggit bahagia.
Keduanya akhirnya bercerai pada 1923.
"Eulis, kata Kan Uci (panggilan Sanusi oleh Inggit) dengan
terpatah-patah. Aku tahu dia pun terharu menyatakannya. Eulis, ulangnya,
Akang telah katakan kepada Kusno, cintailah Inggit dengan
sungguh-sungguh dan jangan terlantarkan dia. Saya tidak senang, tidak
rela kalau musti melihat Inggit hidup sengsara baik lahir maupun batin.
Saya tidak rela kalau sampai mendengar kejadian menimpanya seperti itu."
Soekarno dan Inggit akhirnya menikah pada 1923. Kelak hampir 20 tahun
Inggit dan Soekarno berumah tangga. Berbagi suka dan duka dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peran Inggit sangat besar dalam
mendukung Soekarno.
sumber
Idegue.Com -Jakarta sebagai ibu kota negara kini sudah tidak
ideal lagi. Kota ini menyimpan segudang masalah. Mulai dari kemacetan
akut, kepadatan penduduk, pembangunan tak terencana hingga banjir yang
selalu mengintai jika musim hujan datang.
Presiden Soekarno pada tahun 1950-an sudah meramalkan Jakarta akan
tumbuh tak terkendali. Soekarno dulu punya mimpi memindahkan ibu kota
Republik Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Mengapa Palangkaraya? Ada beberapa pertimbangan Soekarno. Pertama
Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di
tengah-tengah gugus pulau Indonesia. Kedua menghilangkan sentralistik
Jawa.
Selain itu, pembangunan di Jakarta dan Jawa adalah konsep peninggalan
Belanda. Soekarno ingin membangun sebuah ibu kota dengan konsepnya
sendiri. Bukan peninggalan penjajah, tapi sesuatu yang orisinil.
"Jadikanlah Kota Palangkaraya sebagai modal dan model," ujar Soekarno
saat pertama kali menancapkan tonggak pembangunan kota ini 17 Juli 1957.
Satu hal lagi, seperti Jakarta yang punya Ciliwung, Palangkaraya juga
punya sungai Kahayan. Soekarno ingin memadukan konsep transportasi
sungai dan jalan raya, seperti di negara-negara lain.
Soekarno juga ingin Kahayan secantik sungai-sungai di Eropa. Di mana
warga dapat bersantai dan menikmati keindahan kota yang dialiri sungai.
"Janganlah membangun bangunan di sepanjang tepi Sungai Kahayan. Lahan di
sepanjang tepi sungai tersebut, hendaknya diperuntukkan bagi taman
sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah
pada saat orang melewati sungai tersebut," kata Soekarno.
Untuk mewujudkan ide itu Soekarno bekerjasama dengan Uni Soviet. Para
insinyur dari Rusia pun didatangkan untuk membangun jalan raya di lahan
gambut. Pembangunan ini berjalan dengan baik.
Tapi seiring dengan terpuruknya perekonomian Indonesia di awal 60an,
pembangunan Palangkaraya terhambat. Puncaknya pasca 1965, Soekarno
dilengserkan. Soeharto tak ingin melanjutkan rencana pemindahan ibukota
ke Kalimantan. Jawa kembali jadi sentral semua segi kehidupan.
Kini Jakarta makin semrawut, sementara pembangunan di Palangkaraya
berjalan lambat. Hampir tak ada tanda kota ini pernah akan menjadi
ibukota RI yang megah.
Hanya sebuah monumen berdiri menjadi pengingat Soekarno pernah punya mimpi besar memindahkan ibukota ke Palangkaraya.
Sumber: http://www.fashingnet.com/2013/01/mimpi-soekarno-pindahkan-ibu-kota-ke.html
Kata Kata Mutiara Bung Karno - Siapa
yang tak kenal dengan Bung Karno? Proklamator Negara tercinta
Indonesia, bapak bangsa, sang orator ulung. Terlahir dengan nama Koesno
Sosrodihardjo pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Sang pencetus
Pancasila ini diakui sebagai sang orator ulung yang tiap
pidato-pidatonya mampu menggemparkan dunia, menyulut semangat rakyat,
dan membangkitkan gelora di dada.
Dari mulut Bung Karno pun meluncurlah
berbagai kata-kata mutiara dan kata kata bijak yang pantas untuk di
dengar dan di renungkan. Berikut ini adalah kumpulan beberapa kata kata
bijak atau kata kata mutiara Bung Karno.
Kata Kata Mutiara Bijak Bung Karno
Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
Tidak
seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti
dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk
mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)
Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian,
bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena
kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas
segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
Apabila
di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat
suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan
bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. (Pidato Hari Pahlawan 10 Nov.1961)
Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
Bangsa yang tidak percaya kepada
kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai
suatu bangsa yang merdeka. (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
Kemerdekaan
hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya
berkobar-kobar dengan tekad Merdeka, – Merdeka atau mati !
Kita ingin mendirikan satu Negara
"semua buat semua", bukan satu Negara untuk satu orang, bukan satu
Negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita
mendirikan Negara "semua buat
semua"
Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan
Tokh diberi hak atau tidak diberi hak,
tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya bangkit
menggerakkan tenaganya, kalau ia sudah terlalu merasakan celakanya
diri teraniaya oleh satu daya angkara
murka. Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa walau cacingpun tentu bergerak berkelegut-kelegut kalau merasakan sakit.
Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.
Kita belum hidup dalam sinar bulan
purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat
elang rajawali. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)
Janganlah
mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama
masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita belum selesai!
Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat. (Pidato
HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)
Firman Tuhan inilah gitaku, Firman
Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : "Innallahu la yu ghoiyiru ma
bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim". "Tuhan tidak merubah
nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya" (Pidato HUT
Proklamasi, 1964 Bung Karno)
Janganlah
melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah
berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan
datang. (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)
Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita
ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita
menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama
lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. (Pidato
HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)
Aku
Lebih suka lukisan Samudra yang bergelombangnya memukul,
mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, "Kadyo
siniram wayu sewindu lawase". (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno)
"Laki-laki dan perempuan adalah sebagai
dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka
terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika
patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung
itu sama sekali".
Jangan Sekali kali meninggalkan Sejarah !
Belum pernah nama Indonesia ini begitu tingginya seperti Mercusuar daripada umat manusia di dunia ini (pidato bung karno 1964)
Tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Misteri Harta Karun Bung Karno - HARTA
karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri,
bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta
peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu,
sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit
dibuktikan kebenarannya.
Namun lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo Soekarno mengaku
dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu. Bentuknya berupa
ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi
garansi, dan lain-lain. "Ini baru sampel dan silakan mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung," katanya, Jumat kemarin, kepada pers.
Mantan
anggota TNI yang dahulu bernama Suwito itu sengaja mengundang wartawan
di rumahnya, Perumahan Cileungsi Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi,
untuk menyaksikan temuannya. Di rumahnya yang cukup megah disiapkan
hidangan layaknya orang hajatan. Maklum, Goroyo, begitu dia biasa
disapa, juga mengundang Pangdam Jaya, Kapolda, dan anggota Muspida.
Tetapi dari mereka, tak ada pejabat datang.
Kepada
tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti besar berisi ratusan
keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons bergambar Soekarno
dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan
80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk
lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu
dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.
Meskipun
bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu tidak
dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa memastikan
asli atau tidak harta benda tersebut.
Memberi Kuasa
Peninggalan
lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang
dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di
suatu tempat. Ada pula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel
dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan
"Hibah Substitusi" yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).
Yang
terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa kepada R
Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss.
Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS,
Jenewa, dan dua buah koin. Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana
berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.
"Insya
Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno ini
bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya," ungkap
Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah
berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. "Semua saya
lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita," tegasnya.
Saat mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya terpampang spanduk putih bertulisan merah, "Satrio Piningit Soenuso Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia."
Namun
wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai shalat
jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip yang
dikenakan Presiden Soekarno.
Di
ruang tamunya juga dipajang foto dirinya bersama seorang jenderal. Ada
pula yang memperlihatkan saat dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud
SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia enggan membeberkan latar belakang jati
dirinya. "Saya ini orang susah. Jadi tentara pangkatnya juga di sini
(memegang lengannya). Jika saya pakai pakaian seperti ini, hanya model.
Kebetulan saya suka," tuturnya.
Proses Pencarian
Goroyo
mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta
temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan
diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. "Saya tidak ingin
imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat
kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan
Kapolri berhalangan."
Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut.
Diawali
dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan
petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini
tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga
kini.
Selanjutnya,
dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari
beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. "Meskipun
benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi,
mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya
diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa," paparnya.
Ketika
disinggung, kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung
menyerahkan kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai
berhubungan dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden
Megawati, tapi tidak digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art
Harus Putri Osa, Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan
juga dilaporkan kepada anggota DPR Permadi SH.
Namun semua seperti tidak menghiraukannya. "Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk menyaksikan langsung," ujar
Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria piningit dirinya mengemban
tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria itu dia jelaskan, tidak ada
kaitannya dengan ramalan yang pernah diucapkan Permadi bahwa negeri ini
akan dipimpin satria piningit.

Lukisan
potret Presiden RI ke-1 dikabarkan bisa berdetak persis di jantungnya.
Lukisan tersebut kini dipajang di galeri yang berada satu komplek dengan
makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur.
Lukisan
dipasang dekat pintu masuk Galeri sehingga tampak mencolok bagi
pengunjung yang masuk. Berbingkai kayu kelir emas, lukisan berukuran
sekitar 1,5×1,75 meter tersebut ditopang penyangga besi sekitar setengah
meter dari dinding, sehingga terlihat gagah.
Tak
ada yang aneh saat melihat lukisan ini dari depan. Keganjilan baru
terlihat ketika pengunjung melihat lukisan dari samping. Kanvas di dada
kiri Bung Karno bergerak maju-mundur, menciptakan ilusi degup jantung.
Menariknya, ritme degup jantung ini sekitar 60-70 detak per menit, mirip
manusia normal.
Staf
Galeri Bung Karno Friska Fauzi mengatakan, foto Bung Karno yang
berdegup menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung kerap berkumpul di
samping lukisan sambil menatap dalam-dalam ke arah dada Bung Karno.
Mohammad
Zariul Alim dari Madura sengaja datang ke Blitar untuk membuktikan
mitos tersebut. "Yang saya dengar lukisan itu bisa berdetak, jadi saya
merasa penasaran," ujarnya, Jumat (6/4/2012).
Pengunjung lainnya, Nur Faizatul Maghfiroh juga ingin membuktikan langsung, tentang mitos jantung di lukisan itu bisa berdetak.
Mitos
jantung di lukisan Bung Karno yang bisa berdetak itu memang tersiar
luas. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Jatim, selain berkunjung
ke makam juga singgah ke lokasi perpustakaan.
Lukisan
itu dibawa dari Istana Bogor oleh Mantan Presiden Megawati Soekarno
Putri, untuk memperingati 100 tahun haul Bung Karno pada 2001 lalu.
Untuk
melihat kebenaran dari mitos itu, para pengunjug harus antre lama
melihat dengan mata jeli tentang kepastian dari mitos tersebut.
Mitos
lukisan berdetak di jantungnya tersebut membuat pengunjung ke makam
Bung Karno bertambah. Jika pada hari biasa hanya ada sekitar 400
kunjungan ke galeri, sekarang mencapai 600 kunjungan yang berasal dari
seluruh Indonesia.
Kepala
Bagian Hubungan Masyarakat Kota Blitar Muh Sidik mengatakan, fenomena
jantung lukisan Bung Karno berdetak itu memang tidak bisa dijelaskan
dengan ilmu. Ia hanya mengatakan, adanya fenomena itu memang menjadikan
keunikan tersendiri.
"Fenomena
itu tidak bisa dijelaskan lewat ilmu pengetahuan. Kami hanya melakukan
pengelolaan perpustakaan saja, dan tentang mitos ini tentunya menjadikan
keunikan sendiri," kata Sidik. (surya/berbagai sumber)
Mengenang Jiwa Seni Bung Karno
- Sejumlah seniman pelukis dan perupa melaksanakan pameran seni dalam
rangka peringatan Bulan Juni sebagai Bulan Bung Karno, di Galeri TIM,
Jakarta Pusat, Jumat malam.
"Kami ingin Bung Karno menjadi milik
bangsa ini. Dengan pameran ini, kami percaya bahwa energi Bung Karno
takkan pernah pupus. Api perjuangan Bung Karno akan terus ada dan tidak
pernah padam," kata cucu Soekarno yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan,
Puan Maharani, saat membuka pameran “Energi Bung Karno” di Galeri Cipta
III Taman Ismail Marzuki.
Pameran ini diadakan sebagai bagian
dari rangkaian acara Bulan Bung Karno. Sejak beberapa tahun lalu, Bulan
Juni dipromosikan PDI Perjuangan untuk memperingati kelahiran, wafatnya,
pemikiran, dan kiprah Bung Karno sebagai pemimpin bangsa.
Ada
10 pelukis dan perupa yang turut meramaikan pameran itu, diantaranya
adalah Patrick Cornelis Wowor, Her Resmadi, Duvrart Angelo, Sumarwan,
dan Nester Sinaga.
Sejumlah tokoh politik nasional turut hadir
dalam pembukaan pameran itu, diantaranya Menteri Koperasi dan UKM
Syarifuddin Hasan, calon Dubes Italia August Parengkuan, dan Pengamat
Politik Sukardi Rinakit.
Puan menambahkan, generasi masa sudah
sewajarnya punya karya seni yang mewakili semangat dan jiwa untuk
dikenang generasi mendatang.
Indonesia, katanya, sungguh
beruntung punya pemimpin seperti Bung Karno. Sebab, melalui lembaran
sejarah Indonesia, Bung Karno sebagai seorang negarawan, dan sekaligus
seniman.
Sampai saat ini bisa disaksikan hasil karya seni Sang Proklamator Kemerdekaan yang menjadi simbol-simbol negara Indonesia.
"Lihat
gedung MPR/DPR, lihat Monas, lihat Mesjid Istiqlal. Kesemuanya menjadi
warisan Bung Karno yang menuangkan hasratnya pada kesenian dalam bentuk
landmark-landmark Indonesia," kata Puan.
Puan kemudian memaparkan
saat kakeknya diasingkan sebagai tahanan politik di Ende, Flores. Bung
Karno, menyalurkan ide-ide-nya tentang Indonesia melalui seni. Masih ada
lukisan pura Bali yang dibuat Bung Karno di Ende pada tahun 1935.
Di dalam lukisan itu ada empat orang yang berdoa bersama dengan kepercayaannya masing-masing.
"Sebuah gagasan persatuan bangsa yang tertuang dalam keindahan lukisan," ungkapnya.
Dia
menambahkan di Ende juga Bung Karno menghasilkan 13 naskah tonil.
Pementasannya kala itu dilakukan di Gedung Imakulata, milik Paroki
Katedral Ende.
"Sama seperti lukisan pura Bali-nya, tonil-tonil
Bung Karno dijiwai semangat, ide, gagasan bahkan panggilan kepada rakyat
Indonesia untuk merebut kemerdekaan," lanjut Puan.
Dia menyebut
landmark bangunan, lukisan, naskah tonil Bung Karno adalah bukti nyata
bahwa karya seni-nya sarat dengan pesan perjuangan, pesan kemerdekaan,
dan pesan persatuan Indonesia. Dan sebagai karya seni, pesan-pesannya
terus bergaung hingga masa kini.
Puan mengingatkan, kelak
generasi masa depan mempelajari cara hidup di masa sekarang, maka salah
satu yang akan dilihat adalah karya seni yang kita tinggalkan.
"Bung Karno menyampaikan pesan persatuan dan kemerdekaan melalui karya seninya," tambahnya.
Puan
berharap pameran seni rupa “Energi Bung Karno” dapat menjadi pemicu api
semangat untuk melestarikan, menguatkan dan menegaskan identitas bangsa
Indonesia.