Cinta Seorang Suami
- Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir
sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah
benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,
membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku.
Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas
istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan
lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya
kemampuan finansial dan dukungan siapapun. kedua orangtuaku sangat
menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami
sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala
hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak
pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu
bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya
setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku
padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua
keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan.
Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak
suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal
melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan
meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku
meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia
menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai
pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia
menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang
dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi
aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB
dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam
sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia
membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari
empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. kemarahan semakin bertambah ketika
aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang
sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil
lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam
akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang
ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami
dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah
yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari
itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku.
Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang
mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal
dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan
perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti
anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak
menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan
pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia
kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat
untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan
waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam
kemudian. di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang
tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan
kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun
betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di
rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak
menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang
terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan
bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang
kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu,
kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya
menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa
menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali
berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah
membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya
padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku
menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu
jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir
dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si
empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan
mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa
malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet
membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera
sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga
mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah
berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering
teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. ketika suara
bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon
suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu
memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak
armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata
seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan
saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya
terdiam dan hanya menjawab terima kasih. ketika telepon ditutup, aku
berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang
kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya
ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga
tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya
diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku
tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan
segalanya untukku. ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat
ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan
menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena
kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan
kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan
kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada
airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah
ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi
kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu
menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap
wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi
dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah
ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh
perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama
kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.
Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap
berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku
padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis
tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti,
airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam
mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti
menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang
telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku
hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang
kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi
terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen
mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku
sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak
pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak
disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie
instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia
mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah
memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri.
Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia
bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam
setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah
mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya
karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika
melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak
tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun
dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. keluarga besarku membujukku
dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka
kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti
yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan
untuk bersamanya. di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu
memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan.
Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku
sedang mengambek dulu. ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku
berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang,
aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang.
kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan
sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku
terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi
sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali.
Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi
kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku
begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku
tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap
tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu
aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja,
sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau
kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan
mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan
kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru
menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan
normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih
di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak
bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi
yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat
meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin
meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang
dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak
baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus
dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan
begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.
Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah
menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk
bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus
kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan
tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar
pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya
jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk
keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta
kompensasi bonusnya. ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka,
ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal
aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.
Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu
sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena
jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk
menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah
punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama
seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris
memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan
seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam
surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi
suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena
harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf
karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah
memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak
adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku
tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku
telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku
tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan
tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan
mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat
hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu
untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini.
Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang
lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa
mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria
pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi
dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.
Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang
diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi
dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku
membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha
tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang
kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar
cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap
membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir
tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku.
Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan
mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun
meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi
putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami
bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya
Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu,
cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan
mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan
hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar
apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah
mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada
ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku.
Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan
hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya
karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang
begitu tulus.
IDE-GUE.COM -
Semakin lama Dunia ini semakin Tua, beribu-ribu macam ragam gaya pun
akan bermunculan. Entah darimana asal muasal gaya atau trend tersebut.
Kita sebagai Muslim dan Muslimah yang baik, seharusnya bisa
memfilterisasi semua permainan Dunia ini.
Muslimah yang baik ialah Muslimah yang menutupi dan Menjaga Auratnya
sebaik-baiknya dari pandangan orang lain. Mulai dari Ujung Rambut sampai
Kaki, kecuali muka dan telapak tangan.
Muslimah yang baik adalah Muslimah yang selalu memakai Jilbab dengan
baik dan terlihat sopan. Jangan asal-asalan berjilbab. Dan juga kalau
memakai Jilbab, harus dicocokkan dengan Pakaian yang anda pakai. Jangan
memakai Jilbab jika anda mengenakan baju lengan pendek dsb. Jangan
memakai Jilbab jika anda memakai pakaian yang Super Ketat.
Bagi Anda perempuan, pakailah Jilbab dengan benar. Kurang lebih seperti gambar dibawah
Muslimah yang Baik:
Jangan memakai Jilbab seperti gambar gambar berikut ini:
Buat apa Jilbabmu kalau Payudaramu ditonjolin?
Kenapa? Apa ada yang salah dengan gambar gambar tersebut?
Ya Jelas ada yang salah, silahkan Anda perhatikan. Para Wanita pada gambar diatas memakai Jilbab asal-asalan.
Yaitu Mereka memakai Jilbab sekaligus Mengenakan Pakaian Ketat dan menonjolkan Payudaranya. Anda lihat sendiri Foto nya.
Apakah ini yang disebut Muslimah yang baik? Tidakkk!!!!
Terang saja, jika anda meniru seperti gambar diatas, sama saja Anda
merupakan golongan dari Syetan. Sama hal-nya anda juga ikut Mengundang
hawa Nafsu para Lelaki yang Melihat Anda.
Bukankah Jilbab sebagai Simbol Kehormatan Identitas Perempuan?
Ya! Jadi mengapa Anda masih mengenakan Jilbab seperti di gambar? (ini
bagi anda yang merasa saja). Kalau begitu anda sama saja sudah
menginjak-injak Kehormatan Identitas Perempuan itu sendiri, yaitu
kehormatan Anda juga sebagai seorang Wanita.
Nah, Saudari.... Sadarlah... Anda belum terlambat untuk merubah segalanya...
Coment saya, jadilah seorang wanita yang dipandang lelaki sebagai wanita yang sedap dipandang mata..bukan sebagai hawa nafsu.
Sumber: http://madiunkingdom.blogspot.com/
Tuk’ smua ayah d dunia n special thank’s buat Papa
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang
bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar
negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang
tuanya…..Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana
dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk
menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata
Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering
mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang
Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama
tentang kabarmu dan apa yang kau
lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……Papa biasanya
mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu
bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…Kemudian Mama bilang :
“Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut
putri manisnya terjatuh lalu terluka…. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa
dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda
dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang
baru, Mama menatapmu iba.Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas :
“Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa
melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja
dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang
sedikit membentak dengan berkata :”Sudah di bilang! kamu jangan minum
air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu
dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan
keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….Kamu mulai menuntut pada Papa
untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan:
“Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa
berharga.. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil
membanting pintu…Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar
tidak marah adalah Mama…. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan
matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin
mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang
ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool
sedunia….. :’) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang
ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa
cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit
peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar
jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan
menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir… Dan setelah perasaan
khawatir itu berlarut-larut…Ketika melihat putri kecilnya pulang larut
malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. . Sadarkah kamu,
bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?”
Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang
Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan
Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… Tapi
toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai
dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….Dan kamu harus pergi kuliah dikota
lain…Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa
terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat
ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati… Padahal Papa ingin sekali
menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.Yang Papa lakukan hanya
menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu
berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.Papa melakukan itu semua agar
kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu,
orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha
keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya
yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti
Papa belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa
gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang
pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan
tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak
manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin
pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati
memberikan izin..Karena Papa tahu…..Bahwa lelaki itulah yang akan
menggantikan posisinya nanti…
Dan akhirnya….Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama
seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun
tersenyum bahagia…. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu
Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis
karena papa sangat Bahagia!
Kemudian Papa berdoa….Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata:
“Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….Putri kecilku yang lucu dan
kucintai telah menjadi wanita yang cantik….Bahagiakanlah ia bersama
suaminya….”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Papa telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu…
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal apapun.:’)
Tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah hingga tugasnya selesai….
Jika kamu mengalaminya, Kamu adalah salah satu orang yang beruntung…
Suatu hari, seorang motivator terkenal membuka seminarnya dengan cara
unik. Sambil memegang uang pecahan US $ 100, ia bertanya kepada hadirin,
“Siapa yang mau uang ini?”
Tampak banyak tangan diacungkan, pertanda banyak yang minat.
"Saya
akan berikan uang ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi
sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini” Ia berdiri mendekati
hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat.
Lalu bertanya lagi, “
Siapa yang masih mau uang ini?” Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.
“Baiklah”
jawabnya, "apa jadinya bila saya melakukan ini?” ujarnya sambil
menjatuhkan uang ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya.
Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.
“Nah, sekarang masih ada yang menginginkannya?” Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.
“Hadirin
sekalian, kita baru saja mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat
berharga. Tak peduli apapun yang saya lakukan dengan uang ini, kita
semua masih menginginkannya karena walaupun kotor tetap tidak menurunkan
nilainya $ 100.
Seperti di dalam kehidupan, sering kali kita
jatuh kedalam kesalahan, menjadi kotor karena dosa-dosa oleh keputusan
yang telah kita perbuat. Kita memperlakukan diri kita seolah-olah tidak
berharga. Tapi tak peduli akan apapun yang terjadi, kita tidak akan
pernah kehilangan nilai yang sebenarnya di mata TUHAN.. .... Bagi TUHAN,
kotor maupun bersih, nilai kehidupan kita masih sesuatu yang tak
ternilai dihadapan-NYA.
TUHAN memberkati kita semua!
sumber: http://www.osserem.me/2012/08/betapa-berharganya-diri-anda.html
Jangan Pernah Menyakiti Wanita - Seringkali wanita menangis karena pria, entah karena dikecewakan oleh
sikapnya, atau dilukai dengan perkataannya, bahkan ditinggalkan.

Melalui sebuah pesan broadcast di Blackberry Messenger, renungan ini
mungkin sangat berarti untuk dibagikan pada seluruh sahabat agar lebih
menghormati dan menghargai wanita.
Suatu hari, seorang pria berdoa dalam keadaan marah dan emosi. Ia sebal
pada pasangannya yang seringkali menangis dan memanfaatkan air mata di
setiap perdebatannya. Ia bosan. Sungguh bosan.
Tak mau terlibat dalam emosi yang negatif, iapun sujud dan berdoa, meminta pertolongan pada Tuhan.
"Tuhan, mengapa sih wanita sering menangis? Aku bosan dan jenuh melihat dan mendengarnya," keluh pria itu.
Jawab Tuhan kepadanya:
"Karena wanita itu unik. AKU menciptakannya tidak sama seperti kamu. Ia adalah makhluk yang istimewa.
KU kuatkan bahunya untuk menjaga anak-anakmu kelak
KU lembutkan hatinya untuk memberimu rasa aman
KU kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia
KU teguhkan pribadinya untuk terus berjuang saat yang lain menyerah
KU beri naluri untuk tetap menyayangi walau dikhianati dan disakiti oleh orang yang disayangi
KU hembuskan kasih sayang agar ia bisa mencurahimu dengan perhatian
KU buat matanya lentik karena ia akan menjadi jendela kedamaian
KU buat senyumnya merekah seperti mahkota bunga untuk membuatmu tetap mengingat indahnya dunia
KU buat tangannya terampil untuk menjagamu agar tak pernah kekurangan
Tapi jika suatu saat ia menangis...
Itu karena AKU memberikannya air mata untuk membasuh luka batin dan
memberikan kekuatan yang baru. Bukanlah sebuah tanda kelemahan dan
kekalahan."
Pria itupun tertegun sejenak. Diambilnya langkah bergegas, dipeluk dan
diusapnya air mata di pipi orang yang dicintainya. "Aku akan membantumu
menghapus luka batin itu..."
Jangan pernah menyakiti wanita...
Jodoh, siapa sih yang bisa menebak dan mengetahuinya?
Tak ada seorangpun yang bisa tahu pasti siapa jodohnya. Tidak lewat
kartu tarot, tidak juga lewat ramalan bintang apapun. Jodoh itu ya di
tangan Allah, hanya Allah SWT saja yang mengetahui siapakah pasangan
tulang rusuk kita.

Dibesarkan di lingkungan yang sama, aku dan Reza tumbuh sebagai sahabat
baik. Seperti tak pernah ada batasan di antara kami, karena kami tahu
seluk beluk dan kebiasaan masing-masing. Kami juga saling berbagi
cerita, tentang keluarga, tentang teman, apapun yang bisa kami bahas
sampai malam. Kebiasaan itu sudah kami lakukan sejak kecil dulu. Sambil
duduk di atas genteng kamar dan membawa sebuah senter kecil, kami saling
menceritakan semua kejadian sehari-hari.
Mengejar impian, kamipun akhirnya berpisah. Menempuh jalur pendidikan di
kota besar yang saling berjauhan. Aku mengambil di Jogja, dan Reza di
Jakarta.
Kamipun terlarut dalam kehidupan masing-masing. Sama-sama punya kekasih
yang terkadang jadi bahan curhatan kami setiap ada waktu untuk chatting.
Ya, meskipun kami berjauhan, kami masih intens berkomunikasi . Sudah
seperti kakak adik, kami saling menjaga dan mengingatkan. Saling
menguatkan, menghibur dan memberi semangat. Terkadang, jika kumat
usilnya, Reza juga tak segan menggodaku. Tapi, yah... semuanya terasa
seperti biasa saja. Kami saling mengerti posisi masing-masing, dan
menganggap hubungan kami sebagai persahabatan sejati.
Lulus kuliah, kami memilih menetap di kota tempat kami kuliah. Sudah ada
pekerjaan yang sama-sama menanti kami, dan juga pasangan. Bahkan
beberapa bulan lagi, aku sudah merencanakan pernikahan dengan
tunanganku, mas Tyo, kekasihku sejak semester 3. Aku pernah mengenalkan
mas Tyo pada Reza, komentarnya simple, "ah, masih gantengan aku Ra!"
katanya sambil tersenyum. Komentar narsis yang memang sejak dulu ia
enggan dikalahkan siapapun dalam hal penampilan.
Aku sendiri juga sempat dikenalkan dengan kekasihnya, Arini namanya.
Seorang gadis kota yang super enerjik dan cantik. Tak heran jika Reza
tergila-gila padanya, cantiknya bagai artis di televisi. Herannya, Reza
belum pernah bercerita dan mengungkapkan keinginannya meminang Arini.
Padahal, setahuku secara materi Reza juga bisa dibilang sudah siap dan
mapan.
***
Jelang empat bulan pernikahanku, komunikasiku dengan Reza semakin
intens. Ia juga sering berkunjung ke Jogja dan stay untuk beberapa waktu
karena urusan dinas.
Tak ingin membuang waktu, kamipun sering keluar bersama. Kuajak ia
mengelilingi kota Jogja, menunjukkan setiap sudut kota yang menarik .
Aku sendiri senang jalan-jalan dengannya, seperti tak pernah ada beban,
selalu tertawa dan santai. Aku tak pernah khawatir ia akan marah bila
aku tertegun pada sebuah barang lama . Reza juga sangat telaten
menemaniku di waktu senggangnya, untuk sekedar makan es di pinggir
jalan, atau duduk-duduk saja di depan sebuah toko larut malam. Terdengar
seperti aktivitas sederhana yang biasa saja, tetapi aku merindukan
kebersamaan itu. Kebersamaan dan perhatian yang tak pernah kudapatkan
dari kekasihku, mas Tyo.
Sejak itulah, ada sebuah perasaan aneh di dalam diriku. Aku merasa
benar-benar aku saat bersama Reza. Tapi, segera saja kutepis lamunanku.
Ahh... mungkin ini karena aku merindukan masa laluku bersamanya waktu
kecil dulu, pikirku.
***
Dua bulan lagi aku menikah. Aku mendapatkan kabar dari Reza bahwa ia
segera pindah ke Jogja. Kantornya memberikan promosi untuk dirinya, dan
kudengar jabatannya cukup bagus. Haha... tak kusangka, Reza yang dulu
sering mengajakku membolos justru menjadi sosok yang sukses dalam
pekerjaannya. Saat mengerjakan PR dan ulangan saja ia tak pernah absen
menyalin hasil pekerjaanku. Tapi kini, ia menjadi sosok yang berbeda
rupanya.
Jujur, aku deg-degan mendengarkan kabar itu. Senang bercampur bingung.
Bagaimana kalau... Ah, sedang berpikir tentang apa sih aku ini. Kan dua
bulan lagi aku akan menikah dengan mas Tyo. Lagipula, Reza adalah
sahabat sejak kecil dan sudah seperti saudara sendiri. Dipeluk dan
digandeng olehnya sudah biasa, bukan seperti hal yang istimewa, walaupun
kuakui, ada kenyamanan yang luar biasa saat itu...
Hari yang membuatku deg-deganpun datang. Aku sendiri yang akhirnya
menjemput Reza di bandara. Mengantarnya ke sebuah rumah, yang sudah
disiapkan perusahaan untuknya. Rumahnya sederhana sih, kecil, tapi
kelihatannya nyaman. "Nah, sekarang aku sudah tinggal di sini, aku nggak
mau ah jajan di luar. Kamu yang harus memasak untukku Ra," katanya
sambil meletakkan semua tas dan menghitung kembali dos-dos yang masih
dipacking rapi. "Enak aja, buruan nikah sana... biar ada yang ngurusin
kamu," aku melemparkan sebuah bantal sofa yang sedang kurapikan. "Sama
siapa? sama kamu?", timpalnya membuatku terdiam.
Tampaknya Reza menyadari perubahan mimik wajahku, iapun sejenak terdiam
dan beringsut ke kamar membawa serta barang-barang yang hendak
dikeluarkan. Aku masih sibuk merapikan bantal-bantal di ruang keluarga.
Terduduk di sofa dan memandang keluar ke arah jendela. Tanpa kusadari,
ternyata Reza telah duduk di sebelahku. Mengambil bantal yang ada di
pangkuanku, dan mencium lembut bibirku. Aku terhenyak, memandangnya dan
terdiam selama beberapa detik sebelum kemudian menghujaninya dengan
pukulan bantal. Ia hanya tertawa, dan perang bantalpun terjadi. Aku
benar-benar teringat pada masa kecilku, masa yang penuh keceriaan dan
perhatian hangat dari Reza.
***
"Gimana kalau kita menikah, Ra?" pertanyaan Reza terdengar seperti mimpi
bagiku, mimpi yang mungkin jadi kenyataan. Aku masih tak percaya, ini
kenyataan atau mimpi ya. "Ini bukan mimpi, Ra. Kepindahanku ke Jogja ini
sebenarnya sudah kurencanakan sejak lama. Aku memilih Jogja karena ada
kamu di sini..." katanya.
"Lantas, bagaimana dengan Arini?" tanyaku.
"Hubunganku sudah lama tak berhasil dengannya. Aku tak bisa
menghilangkan kamu dari pikiranku. Kamu boleh percaya boleh tidak, semua
itu sudah kurasakan semenjak masuk bangku kuliah dulu. Ada yang hilang
saat jauh dari kamu. Tapi kemudian kudengar kamu sudah punya pacar. Eh,
sekarang malah mau menikah..."
"Nah, itu kamu tahu aku sudah mau menikah. Bulan depan aku mau nikah Za.
Kamu ini gila atau cuma mau ngerjain aku aja sih?" aku jadi marah
bercampur excited. Rasa yang tak karuan dan sekaligus langsung membuatku
stress saat itu juga. Reza memegang tanganku, berlutut di depanku dan
meminangku bak adegan di televisi. "Aku serius Ra, aku nggak bisa hidup
jauh dari kamu. Aku merasa dan aku yakin kamu belahan jiwaku. Dan aku
tahu kamu juga merasakan hal yang sama..."
***
Dengan besar hati, mas Tyo menerima keputusanku. Dia tidak marah, dia
malah mendoakan kebahagiaanku. Pesta pernikahan yang tadinya hendak
kulangsungkan dengannya, mendadak digantikan oleh Reza. Dan anehnya,
semua surat dan pengurusan bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.
Rasanya seperti sebuah kebetulan yang sudah diatur. Tidak ada kendala
apapun dalam pernikahan kami yang mendadak itu.
Untuk itulah aku percaya, Reza, dialah jodohku yang sebenarnya.
Renungan: Akibat Berbuat Maksiat - “Dan musibah apapun yang meimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,” (QS. As-Syuura : 30)
SAAT ini banyak sekali macam-macam penyakit yang ada di masyarakat dan
di antaranya bahkan sangat sulit disembuhkan. Nama-nama penyakitnya pun
aneh dan beragam. Ada penyakit flu babi, flu burung, dll. Ada biang
penyakit dan wabah yang telah dilalaikan oleh manusia secara umum, dan
kebanyakan kaum muslimin secara khusus. Biang penyakit tersebut adalah
maksiat.
Telah banyak dalil, baik dari al-Qur’an dan As-Sunnah, serta dari
berbagai fakta di alam semesta, yang menunjukkan bahwa kemaksiatan
adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai petaka dan penyakit.
Allah SWT. berfirman: “Dan sungguh-sungguh Kami akan menimpakan adzab
kecil (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21).
Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan adzab dekat (kecil) ialah
berbagai musibah yang terjadi di dunia, penyakit dan petaka yang Allah
timpakan kepada hamba-hamba-Nya, agar mereka bertaubat.” Dalam ayat
lain, Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan,
niscaya ia akan diberi balasan dengannya.” (QS. An-Nisa’ : 123)
Qatadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seorang
yang tergores oleh ranting, atau terkilir kakinya atau terpelintir
uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat.”
Pada suatu hari ada seorang yang bertanya kepada sahabat Sa’ad bin Abi
Waqqas di hadapan sahabat Usamah bin Zaid tentang penyakit (wabah)
tha’un, maka sahabat Usamah bin Zaid mengabarkan bahwa Rasulullah SAW.
pernah menjelaskan tentang hal itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya
penyakit ini adalah kotoran yang dengannya Allah mengadzab sebagian umat
sebelum kalian, kemudian tersisa di bumi, kadangkala ia hilang dan
kadangkala ia datang kembali.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Tidak mengherankan bila Nabi SAW. menjelaskan bahwa salah satu hikmah
dari setiap musibah yang menimpa seorang muslim ialah untuk menghapuskan
kesalahan dan dosanya. “Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa letih,
rasa sakit, gundah pikiran, rasa duka, gangguan dan kebingungan
sampai-sampai duri yang menusuknya, melainkan akan Allah hapuskan
sebagian dari kesalahannya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Ibnu Qayim al-Jauziyah mengatakan, “Perbuatan maksiat adalah faktor
terbesar yang menghapus barakah usia, rezeki, ilmu, dan amal. Setiap
waktu, harta, fisik, kedudukan, ilmu, dan amal yang Anda gunakan untuk
maksiat kepada-Nya, maka sebenarnya semua bukan milik Anda. Usia, harta,
kekuatan, kedudukan, ilmu, dan amal yang merupakan milik Anda
sebenarnya adalah yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah.”
Selanjutnya, Ibnu Qayim lebih lanjut menerangkan akibat-akibat dari berbuat maksiat ini secara terperinci. Ini rangkumannya:
1-Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan
dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam
Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa,
beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah Swt telah menyiratkan
cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu
dengan maksiat.”
2- Maksiat Menghalangi Rezeki
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki. Maka meninggalkannya
berarti menimbulkan kefakiran. “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat
dosa yang diperbuatnya” (HR. Ahmad).
3- Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah Swt
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif
tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu
akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati
kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas
dosa.”
4- Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain
Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan
yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya
hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan
kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan
keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri.
Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah Swt,
maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan
istriku.”
5- Maksiat Menyulitkan Urusan
Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan
menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat
Menggelapkan Hati Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap
gulita.
Ibnu Abbas ra berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan
kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan.
Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut
muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya
rizki dan kebencian makhluk.”
6- Maksiat Melemahkan Hati dan Badan
Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya
kuat maka kuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya
kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia
butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinya sendiri.
Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum muslimin yang telah
mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi.
7-Maksiat Menghalangi Ketaatan
Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan
ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mengalami
sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang
lebih baik.
8- Maksiat Memperpendek Umur dan Menghapus Keberkahan
Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu
tak ada yang namanya hidup kecuali jika kehidupan itu dihabiskan dengan
ketaatan, ibadah, cinta dan dzikir kepada Allah serta mementingkan
keridhaan-Nya.
9- Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain
Seorang ulama Salaf berkata, bahwa jika seorang hamba melakukan
kebaikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebaikan
yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan,
maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga
keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku.
10- Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani
Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan
menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat
memutuskan keinginan untuk bertobat. Inilah yang akan menjadi penyakit
hati yang paling besar.

Suatu ketika..seorang bayi siap dilahirkan ke dunia,menjelang diturunkan … Dia bertanya kepada TUHAN :
bayi
: “para malaikat di sini mengatakan, bahwa besok Engkau akan mengirimku
ke dunia, tetapi….bagaimana cara saya hidup di sana,saya begitu kecil
dan lemah”
TUHAN : “Aku telah memilih satu malaikat untukmu..ia akan menjaga dan mengasihimu”
bayi : “tapi di surga apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa ini cukup bagi saya untuk bahagia”
TUHAN
: “malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan
kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia”
bayi : “dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?”
TUHAN : “malaikatmu akan mengajarkan..bagaimana cara kamu berdoa”
bayi : “saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat,siapa yang akan melindungi saya”?
TUHAN : “malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun”
bayi : “tapi saya akan bersedih karena tidak melihat engkau lagi”
TUHAN
: “malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang aku, dan akan
mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaku, walaupun
sesungguhnya aku selalu berada di sisimu”
saat itu surga begitu tenangnya…sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya
bayi : “TUHAN……….jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku nanti”?
TUHAN : “kamu dapat memanggil nama malaikatmu itu…… I B U …”
kenanglah ibu yang menyayangimu..
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…
Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu..
Ingatkah engkau..ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?
Dan ingatkan engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit…
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan..
Kembalilah…mohon maaf…pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu..
Jangan biarkan kau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang,ketika ibu telah tiada…
Tak ada lagi di depan pintu yang menyambut kita…,tak ada lagi senyuman indah…tanda bahagia..
Yang ada hanyalah kamar kosong tiada penghuninya..yang ada hanyalah baju yang digantung di lemarinya..
Tak ada lagi..dan tak akan ada lagi.. Yang akan meneteskan air mata mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya..
Pulang..dan kembalilah segera…peluklah ibu yang selalu menyayangimu..
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya..
bagi
agan2 yg ibunya udh tiada, jangan pernah lupa selalu do’akan beliau
semoga beliau tenang disisiNya & dosa2 beliau diampuni-Nya
Suatu ketika..seorang bayi siap dilahirkan ke dunia,menjelang diturunkan … Dia bertanya kepada TUHAN :
bayi :
“para malaikat di sini mengatakan, bahwa besok Engkau akan mengirimku
ke dunia, tetapi….bagaimana cara saya hidup di sana,saya begitu kecil
dan lemah”
TUHAN : “Aku telah memilih satu malaikat untukmu..ia akan menjaga dan mengasihimu”
bayi : “tapi di surga apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa ini cukup bagi saya untuk bahagia”
TUHAN
: “malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari, dan
kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan lebih berbahagia”
bayi : “dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?”
TUHAN : “malaikatmu akan mengajarkan..bagaimana cara kamu berdoa”
bayi : “saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat,siapa yang akan melindungi saya”?
TUHAN : “malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun”
bayi : “tapi saya akan bersedih karena tidak melihat engkau lagi”
TUHAN
: “malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang aku, dan akan
mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaku, walaupun
sesungguhnya aku selalu berada di sisimu”
saat itu surga begitu tenangnya…sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya
bayi : “TUHAN……….jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku, siapa nama
malaikat di rumahku nanti”?
TUHAN : “kamu dapat memanggil nama malaikatmu itu…… I B U …”
kenanglah ibu yang menyayangimu..
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…
Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu..
Ingatkah engkau..ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?
Dan ingatkan engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit…
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan..
Kembalilah…mohon maaf…pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu..
Jangan biarkan kau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang,ketika ibu telah tiada…
Tak ada lagi di depan pintu yang menyambut kita…,tak ada lagi senyuman indah…tanda bahagia..
Yang ada hanyalah kamar kosong tiada penghuninya..yang ada hanyalah baju yang digantung di lemarinya..
Tak ada lagi..dan tak akan ada lagi.. Yang akan meneteskan air mata mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya..
Pulang..dan kembalilah segera…peluklah ibu yang selalu menyayangimu..
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya..
bagi
agan2 yg ibunya udh tiada, jangan pernah lupa selalu do’akan beliau
semoga beliau tenang disisiNya & dosa2 beliau diampuni-Nya ( sumber:osserem.me )
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid
untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun
kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun
lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan
nafsu birahi semata, namun
alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada
saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur'an; namun
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.
Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau
berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu
lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun
kalau
ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa seringnya kita
ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik
pada icon
DELETE.
ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR...?
Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah
kepada ALLAH, YANG MAHA BAIK,PENGASIH
DAN PENYAYANG.
sumber

Tulisan ini, bukan bermaksud untuk Pornografi dan Pornoaksi.Tetapi hendaklah dilihat secara obyektif.
Tulisan ini seyogianya bisa dijadikan bahan renungan, bahwa betapa miris
dan runtuhnya sendi-sendi kehidupan (moral) bangsa ini. Bagaimana
tidak, Anti (nama samaran) seorang wanita muda berkulit putih bersih
yang cantik, yang lebih memilukan lagi dia tuna rungu, terpaksa melacur
karena tidak ada pekerjaan lain.
Cerita ini dibuat berdasarkan
wawancara dengannya, berawal dari pertemuan di halte sebuah jembatan
penyeberangan busway di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat tempat
dia mangkal di suatu malam pada 4 Juni 2012.
Cerita mengenai
kehidupannya didapat dengan berpura-pura "check-in" di sebuah hotel
kecil di kawasan Menteng. Dan ia membeberkan kisahnya melalui media
ponsel.
Anti saat ini berumur 22 tahun. Dia adalah anak seorang
saudagar kelontong di sebuah kota di Pantura Jawa Barat. Secara ekonomi
sebenarnya dia tidak berkekurangan karena orang tuanya kaya. Namun
karena dia terlahir sebagai tuna rungu, dia sejak kecil hingga berusia
18 tahun dititipkan kepada neneknya. Walaupun dia tuna rungu, dia bisa
mengecap pendidikan SMA di sekolah umum dan lulus dengan nilai yang
memuaskan beberapa tahun lalu dan sempat mengenyam kuliah di perguruan
tinggi swasta ternama di kota B.
Lalu mengapa ia sampai menjadi
perempuan malam yang menjajakan dirinya? Semuanya karena salah pacarnya
yang menghamili dia dan tidak bertanggung jawab. sebagai anak seorang
saudagar kaya, tuna rungu pula hal ini adalah aib yang amat berat
apabila diketahui oleh keluarga dan orang sekampung. Oleh karena itu dia
tidak melaporkan kasus ini ke Polisi. Hanya neneknya saja yang tahu.
Gara-gara
hamil diluar nikah, kuliahnya terpaksa drop out karena malu. Dan dalam
kesunyian hidupnya, dia hanya mengandalkan uang kiriman dari orang
tuanya dan selalu berdalih sibuk bekerja dan magang di Jakarta apabila
orang tuanya menanyakan mengapa dia tidak pulang.
Ia melahirkan
bayinya di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan ditemani neneknya.
Namun seminggu setelah kelahiran bayinya, neneknya meninggal dunia.
Kematian neneknya amat memukul batinnya. Ia bagai kehilangan pegangan
dan tempat berlindung. Hidupnya benar-benar seperti simalakama. Mau
pulang dia malu. selain takut ditanya ini-itu, dia pun merasa tidak tega
meninggalkan bayinya.
Hingga saat ini, apabila keluarganya
menanyakan kabarnya dia selalu menjawab "baik-baik saja". Rahasianya
saat ini belum terbongkar karena ia pernah berdalih kepada orang tuanya
bahwa sebelum lulus dia sudah ditawari pekerjaan di sebuah kantor di
Jakarta jadi karena sudah enak dan terjamin dia tidak melanjutkan
kuliahnya. Sebuah alasan yang cerdik.
Saat ini, anaknya sudah
berusia 4 tahun. Ia menunjukkan foto anaknya yang dia simpan di
dompetnya. Seorang anak perempuan yang manis. Orang tuanya tidak pernah
bertemu dengan "cucunya", karena ia selalu sukses "mengungsikan" anaknya
bersama babysitternya apabila orangtuanya datang berkunjung.
Sebenarnya,
saat ini seharusnya dia tidak melakukan pekerjaan "kotor" ini karena
dia sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki asal Hongkong yang
dikenalnya di sebuah tempat hiburan malam. Namun karena kekasihnya ini
tidak rutin mengirimkan uang (setiap kali kirim sebesar US$ 700 per
bulan) maka dia terpaksa bekerja begini.
Saat ditanyakan kenapa
tidak belerja di kafe atau bar saja? Jawabnya, "Tidak bisa, sering ada
razia dan teman-teman iri kepada saya (karena saya cantik". Ya, Anti
memang cantik walau penampilannya sederhana. "Saya tidak suka tampil
berlebihan, mas. Saya lebih suka sederhana". Benar sekali menurut saya.
Bagi saya perempuan yang penampilannya sederhana tanpa polesan sana-sini
justru malah terlihat aura kecantikan aslinya.
Mengenai
pernikahan dia tidak tahu bagaimana nantinya, "Kagak tahu. Jalani saja
apa adanya karena saya trauma dengan (komitmen) laki-laki". Dan
laki-laki Hongkong yang menjadi pacarnya ini, dia mengaku tidak bisa
memegang komitmen laki-laki tersebut. "Kalau mas bilang saya matre,
terserah mas. Yang penting saya tidak pernah meminta uang ke dia".
Tidak
terasa sejam berlalu, "Mas waktunya sudah habis". Ya benar sekali.
Sudah satu jam! Dia bersedia untuk difoto asalkan identitasnya
disamarkan. "Yakin mas tidak mau main?". Saya jawab tidak usah karena
saya bukan laki-laki hidung belang. Dia berterima kasih seraya
mengatakan bahwa saya ini adalah satu-satunya tamu yang sopan dan amat
menghargai dirinya. Dan dia pun mengembalikan "tarifnya" yang sebenarnya
sudah cukup murah sebesar 25% ke saya.
Seraya merapikan
pakaiannya dicermin, dia mengetik di HP nya dan menyodorkannya ke saya :
"Saya tidak ingin terus-terusan seperti ini. Suatu saat saya pasti akan
berhenti sebelum saya berumur 25 tahun".
Kenapa tidak sekarang saja? "Saya sedang mengumpulkan modal usaha".
Salut
dengan Anti yang tuna rungu ini, bagaimanapun juga sejelek-jeleknya
kita memandangnya ternyata dia mempunyai kemauan untuk bertobat. Tidak
seperti para wanita lain sejenis ini yang karena "serba enak" mereka
keterusan dan susah untuk berhenti dari dunia ini.
"Mas, saya
tahu pasti mas memandang rendah saya. Tidak apa-apa mas. Doakan saya.
Maaf saya tidak bisa memberitahu nomor HP saya. Terima kasih, mas.
Sukses untuk mas. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu dalam keadaan
yang lebih baik". Demikian tulisnya di layar ponsel androidnya sesaat
sebelum saya pulang.
Saya suka kalimat terakhirnya, "Semoga di
lain waktu kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik". Ini
menunjukkan dia amat cerdas dan memang berniat untuk bertobat.
Hidup itu sederhana. Ambil keputusan, maka lakukan dan jangan menyesalinya.
Ada
seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam
tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia
mendapatkan pekerjaan tersebut.
”Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.”
Ada
seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang
yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain
memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga
bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan
hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil
ditarik/diambil kerja di tempatnya.
”Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.”
Seorang
anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu menjawab:
“Mengapa?” Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak
marah-marah.”
”Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.”
Seorang
petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya
berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap
akan tumbuh dengan subur.” Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk
tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.”
”Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.”
Seorang
pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam
rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab: “Cari mulai
dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang
cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling
tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi
setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah
sana.”
”Ternyata
jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala
sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan
meloncat-loncat.”
Katak
yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir
jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di
pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan
menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
”Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.”
Ada
segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan
berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.
Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil
tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”
”Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.”
Sumber